Memahami Engine Electronic Control Unit pada Kendaraan Peugeot
Dalam dunia otomotif, sudah tidak asing lagi dengan istilah ECU. ECU merupakan singkatan untuk Electronic Control Unit. Fungsi dari ECU ini adalah sebagai controller dari sistem kerja dari kendaraan. Yang umum kita temui adalah ECU mesin, biasa disebut ECM atau engine control modul. Sebenarnya tidak hanya mesin saja yang memiliki ECU, tapi pada beberapa kendaraan, terutama pabrikan Eropa, masing masing fitur kendaraan memiliki ECU sendiri, misalnya ECU power steering, ECU Gearbox, ECU antilock brake system dan juga ECU reverse assistance.
Apa Fungsi dari ECU mesin
Pada mesin mobil yang sudah menggunakan teknologi injeksi, kontrol injeksi bahan bakar diatur oleh ECU, mengatur jumlah udara yang masuk, mengatur pembakaran, membaca semua sensor dari tekanan udara, volume udara, tekanan bahan bakar, oli, temperature dan sebagainya. Bisa dikatakan bahwa ECU merupakan otak pengendali dari kendaraan.
Dalam banyak kasus, ECU sangat sensitif terhadap panas dan getaran, sehingga biasanya dia ditempatkan di ruang penumpang yang jauh dari mesin. Namun, banyak juga yang diletakkan dalam ruang mesin berdekatan dengan peralatan listrik lainnya. Secara fisik, ECU dikemas didalam casing yang kuat dan tahan air, termasuk juga tahan terhadap panas yang dihasilkan oleh mesin.
Namun, ada kelemahan dari ECU yang umum terjadi. Selain kerusakan akibat gangguan fisik, dari luar misalnya benturan, basah kena air, terexpose panas berlebih, kelemahan utama dari ECU adalah semua komponen elektronik selalu sensitive terhadap kelistrikan. ECU sangat sensitive terhadap power supply listrik.
Sistem kelistrikan utama dari mobil diperoleh dari baterai accu dan alternator. Dari kedua supply tersebut, selalu memiliki usia pakai yang mengakibatkan degradasi kemampuan. Accu dan alternator selalu bekerja dalam kondisi mesin panas, sehingga kemampuannya akan menurun secara cepat. Accu, secara umum memiliki usia hanya 1-2 tahun. Alternator, merupakan peralatan rotary yang berputar mengikuti putaran mesin, pasti akan terjadi ke aus an pada komponen yang bergerak dan bergesekkan. Belum lagi sistem penyearah listrik dan charging baterai. Oleh karenanya, ECU perlu perhatian khusus terhadap sistem kelistrikan dari mobil.
Secara umum, ECU mesin terdiri dari micro controller, random access memory, read only memory yang terhubung dengan input output module. Program dan database yang tersimpan di dalamnya yang merupakan engine control management. Pengaturan kerja dari mesin dilakukan oleh processor, berdasarkan data yang di peroleh dari input sensor dan disimpan diolah serta dikirimkan ke output module atau interface drive actuator.
Sebab Kerusakan ECU Mesin (ECM)
Hati hati dan perlu prosedur yang benar dalam penanganan mobil yang sistem kerja mesinnya dikontrol secara electronic. Bagian utama sistem pengontrol kerja mesin electronic terbagi dalam tiga bagian yaitu, sensor, control module dan actuator.
Mesin tidak dapat bekerja normal atau tidak bisa hidup apabila salah satu dari komponen tersebut mengalami kerusakan. Gangguan pada komponen sensor dapat menyebabkan pembacaan parameter oleh ECM menjadi salah atau tidak dapat diproses yang selanjutnya ECM akan memerintahkan actuator tidak bekerja.
Hal-hal yang memungkinkan menyebabkan kerusakan pada ECM:
- Melepas terminal baterai saat mesin hidup. Melepas kabel baterai menyebabkan tegangan supply yang masuk ke ECM diperoleh dari alternator langsung, walaupun tegangan keluaran sudah tegangan DC, tapi biasanya tegangan output naik turun tergantung putaran mesin. Ini dapat berakibat over/under voltage yang berpengaruh pada komponen elektronik.
- Melepas terminal baterai saat ECU masih bekerja. Seperti hal nya computer dirumah, jika dipadamkan pada saat sedang bekerja, dapat berakibat program terhenti tiba tiba saat memproses data, bisa berakibat “hang”.
- Kondisi baterai lemah. Pada saat kondisi accu sudah lemah, tegangan turun, ECU dapat berakibat error, karena minimum tegangan supply tidak tercapai. Ini sering terjadi di banyak kendaraan, karena tidak digunakan lama, accu melemah dan tidak di-charging.
- Fuse utama untuk pengisian dan beban distribusi power suplai utama “poor connection”, atau ada istilah “ngefong”, jadi sambungan tidak bagus berakibat terjadinya “spark” percikan bunga api yang berakibat terbakar. Percikan listrik bisa menimbulkan “surge” atau tegangan impulse yang nilainya melebihi tegangan normal.
- Mencuci mesin sehingga membasahi socket-socket konektor dan kabel mesin, hal ini menyebabkan short pada konektor sensor atau aktuator sehingga terjadi arus langsung ke ECM.
- Membiarkan mesin lama tidak di panaskan (dihidupkan) sensor atau aktuator macet, sirkuit board dan komponen electronic atau solder mengalami kerusakan (sambungan terputus), kotor dan berkarat.
Beberapa hal yang harus diperhatikan agar menjaga ECM dan komponen elektronik terhindar dari kerusakan
- Tidak melepas terminal batterai saat mesin sedang dihidupkan, untuk memeriksa sistem pengisian kembali tegangan batterai gunakanlah volt meter.
- Periksa secara rutin kondisi hubungan dan terminal Fuse utama dan secara visual dapat dilihat element fuse bagian dalam tidak hangus.
- Cegahlah socket-socket, konektor dan komponen sensor serta actuator dari terkena air. bila harus membersihkan bagian komponen tersebut, gunakanlah electronic cleaner, kain atau kuas yang bersih.
- Jangan membiarkan mesin lama tidak dihidupkan sehingga temperatur komponen-komponen didalam ECM atau sensor serta aktuator mengalami kelembaban.
- Hindari atau amankan kendaraan dari rendaman air terutama musim hujan dan banjir.
Salam
307PugLover
S

Comments
Post a Comment